Kodingmu

Desember 2025

Halaman arsip untuk Desember 2025 oleh Kodingmu
  • Terbit pada
    Efektivitas Pemrograman Berbasis Blok dalam Pembelajaran Algoritma

    Pendahuluan

    Pembelajaran algoritma sering kali menjadi tantangan besar bagi pemula karena kompleksitas sintaksis dalam bahasa pemrograman tradisional. Pendekatan Block-Based Programming (BBP) hadir sebagai solusi visual yang memungkinkan pengguna menyusun logika program melalui antarmuka "seret dan lepas" (drag-and-drop). Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini memberikan manfaat signifikan, terutama bagi siswa dengan latar belakang akademik yang beragam.

    Manfaat Utama

    1. Mengurangi Kecemasan Belajar Salah satu hambatan utama dalam belajar pemrograman adalah rasa takut akan kegagalan. Antarmuka visual yang menyerupai blok bangunan terbukti mampu mengurangi kecemasan belajar, khususnya bagi siswa dengan tingkat prestasi akademik rendah hingga sedang (Hsu & Hwang, 2023). Dengan visualisasi yang intuitif, tugas pemrograman menjadi lebih mudah diakses dan tidak mengintimidasi.

    2. Meningkatkan Keterlibatan dan Kesenangan Lingkungan berbasis blok menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan (playful learning). Penggunaan blok meningkatkan keterlibatan siswa karena proses belajar terasa seperti bermain, yang secara langsung berdampak positif pada pengembangan keterampilan berpikir komputasional mereka (Hsu & Hwang, 2023; Taylor et al., 2019).

    3. Fokus pada Logika dan Konsep Tingkat Tinggi Berbeda dengan pemrograman berbasis teks yang menuntut ketepatan penulisan (sintaksis), pendekatan blok memungkinkan siswa untuk fokus sepenuhnya pada perancangan algoritma dan logika tingkat tinggi (Matsuzawa et al., 2016). Siswa tidak perlu khawatir tentang kesalahan titik koma atau kurung kurawal, sehingga pemahaman konsep pemrograman menjadi lebih mendalam (Price & Barnes, 2017).

    4. Penguatan Keterampilan Pemecahan Masalah Pemrograman berbasis blok memiliki efek positif yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah (problem-solving). Pendekatan ini memudahkan siswa untuk memvisualisasikan solusi dan menerapkannya dalam konteks praktis (Chiu & Tsuei, 2020; Talan et al., 2025).

    5. Jembatan Menuju Pemrograman Berbasis Teks Banyak ahli menyarankan penggunaan blok sebagai fondasi sebelum beralih ke bahasa pemrograman profesional. Siswa yang memulai dengan blok menunjukkan kesiapan yang lebih baik dan transisi yang lebih mulus saat menghadapi kompleksitas pemrograman berbasis teks (Matsuzawa et al., 2016; Lai & Yang, 2022).

    Kelebihan Tambahan dan Implementasi

    Adaptabilitas di Berbagai Level: Pendekatan ini efektif diterapkan mulai dari sekolah dasar hingga jenjang perguruan tinggi (Talan et al., 2025; Olari et al., 2021).

    Integrasi Game dan Robotika: Penggunaan alat seperti IntelliBlox dalam lingkungan Game-Based Learning atau kontrol robot meningkatkan motivasi siswa secara drastis (Taylor et al., 2019; Liu et al., 2023).

    Sinergi dengan Berpikir Komputasional: BBP sangat efektif bila dikombinasikan dengan aktivitas unplugged untuk mendefinisikan kembali cara siswa memahami computational thinking di era digital (Jiang et al., 2022; Batni & Junaini, 2025).

    Kesimpulan

    Pendekatan blok bukan sekadar alat sederhana untuk anak-anak, melainkan metodologi pedagogis yang kuat untuk membangun fondasi berpikir algoritmik. Dengan mengurangi hambatan teknis dan meningkatkan aspek psikologis positif, pemrograman berbasis blok memastikan inklusivitas dalam pendidikan teknologi.

    Daftar Rujukan

    Batni, B., & Junaini, S. N. (2025). Redefining computational thinking: Synergizing unplugged activities with block-based programming. Education and Information Technologies.

    Chiu, J.-I., & Tsuei, M. (2020). Meta-Analysis of Children’s Learning Outcomes in Block-Based Programming Courses. Communications in Computer and Information Science.

    Hsu, T.-C., & Hwang, G.-J. (2023). Interaction of visual interface and academic levels with young students’ anxiety, playfulness, and enjoyment in programming for robot control. Universal Access in the Information Society.

    Herman, K. M. S., & Rajagukguk, K. J. (2025). Recovery of State Financial Losses as a Strategy for Combating Corruption Crimes: A Reform of Criminal Law. Jurnal Ilmiah Mizani.

    Jiang, B., Zhao, W., Zhang, N., & Qiu, F. (2022). Programming trajectories analytics in block-based programming language learning. Interactive Learning Environments.

    Lai, A.-F., & Yang, C.-Y. (2022). The Effectiveness of Block-Based Programming Learning on the Problem-Solving Skills of the Freshmen. Communications in Computer and Information Science.

    Liu, H., Wu, Z., Lu, Y., & Zhu, L. (2023). Exploring the Balance between Computational Thinking and Learning Motivation in Elementary Programming Education: An Empirical Study with Game-Based Learning. IEEE Transactions on Games.

    Matsuzawa, Y., Tanaka, Y., & Sakai, S. (2016). Measuring an impact of block-based language in introductory programming. IFIP Advances in Information and Communication Technology.

    Olari, V., Cvejoski, K., & Eide, Ø. (2021). Introduction to Machine Learning with Robots and Playful Learning. 35th AAAI Conference on Artificial Intelligence (AAAI 2021).

    Price, T. W., & Barnes, T. (2017). Position paper: Block-based programming should offer intelligent support for learners. Proceedings - 2017 IEEE Blocks and Beyond Workshop.

    Talan, T., Doğan, Y., Kalinkara, Y., & Batdi, V. (2025). To block or not to block?: A meta-analysis of effectiveness of block-based programming. Research in Science and Technological Education.

    Taylor, S., Min, W., Mott, B., & Lester, J. (2019). Position: IntelliBlox: A Toolkit for Integrating Block-Based Programming into Game-Based Learning Environments. Proceedings - 2019 IEEE Blocks and Beyond Workshop.

  • Terbit pada

    1. Definisi dan Konsep Inti

    Computational Thinking (CT) atau Berpikir Komputasional adalah sebuah metode pemecahan masalah yang melibatkan penguraian masalah kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mudah dikelola (Decomposition), mengenali pola (Pattern Recognition), mengabstraksikan prinsip-prinsip umum (Abstraction), dan merancang langkah-langkah sistematis atau algoritma untuk menyelesaikannya (Algorithmic Design) (Kumar & Mohd, 2024; Gupta et al., 2024).

    Secara kognitif, CT bukan sekadar tentang pemrograman, melainkan proses berpikir sistematis yang meniru cara komputer atau sistem informasi memproses data untuk menemukan solusi (Rojas-López & García-Peñalvo, 2018; Zhao & Hu, 2022).

    2. Aplikasi dan Urgensi

    Meskipun sering dikaitkan dengan ilmu komputer, CT memiliki kegunaan lintas disiplin yang luas:

    Utilitas Interdisipliner: CT dapat diterapkan dalam bidang matematika, teknik, hingga psikologi untuk menganalisis perilaku dan data (Ho et al., 2021; Gross et al., 2014; Anderson, 2016).

    Integrasi Pendidikan: Saat ini, CT semakin banyak diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan di berbagai level untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa (Hoić-Božić et al., 2019; Harimurti et al., 2019; Dehbozorgi & Roopaei, 2024).

    Keterampilan Masa Depan: Kemampuan ini dianggap esensial bagi individu agar dapat berfungsi secara optimal di tengah masyarakat yang digerakkan oleh teknologi (Hoić-Božić et al., 2019; Chang, 2011).

    3. Strategi Pendidikan dan Implementasi

    Untuk mengajarkan CT secara efektif, diperlukan pendekatan yang terstruktur:

    Desain Kurikulum: Fokus pada modul pembelajaran yang mengasah keterampilan dekomposisi, pengenalan pola, dan berpikir algoritmik (Dehbozorgi & Roopaei, 2024; Jeng et al., 2019).

    Alat Peraga Praktis: Penggunaan platform seperti Scratch, NetLogo, robotika (mobile robots), dan Arduino menciptakan pengalaman belajar yang interaktif dan menarik bagi siswa (Harimurti et al., 2019; Nannum et al., 2025).

    Evaluasi Berkelanjutan: Penilaian yang konsisten diperlukan untuk memastikan siswa benar-benar mengembangkan keterampilan berpikir ini, bukan sekadar menghafal teori (Vinu Varghese & Renumol, 2021; Qu et al., 2023).

    4. Manfaat Computational Thinking

    Integrasi CT dalam dunia pendidikan memberikan keuntungan jangka panjang:

    Peningkatan Pemecahan Masalah: Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi untuk menghadapi masalah dunia nyata yang kompleks (Kumar & Mohd, 2024; Dehbozorgi & Roopaei, 2024).

    Pertumbuhan Akademik (STEM): Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang menguasai CT cenderung memiliki performa akademik yang lebih baik, terutama di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (Dehbozorgi & Roopaei, 2024; Mee et al., 2025).

    Inklusivitas: CT mempromosikan akses pendidikan yang setara dengan menyediakan metodologi belajar yang bisa diakses oleh semua siswa dari berbagai latar belakang (Mee et al., 2025).

    Kesimpulan

    Computational Thinking adalah keterampilan fundamental yang membekali siswa dengan kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara sistematis dan kreatif. Integrasi CT ke dalam kurikulum pendidikan tidak hanya memperkuat kemampuan kognitif, tetapi juga mempersiapkan generasi muda untuk memenuhi tuntutan dunia kerja dan masyarakat berbasis teknologi di masa depan.

    Daftar Pustaka

    Anderson, N. D. (2016). A Call for Computational Thinking in Undergraduate Psychology. Psychology Learning and Teaching.

    Chang, C.-K. (2011). Integrate social simulation content with game designing curriculum to foster computational thinking. Proceedings - 7th International Conference on Digital Content, Multimedia Technology and Its Applications.

    Dehbozorgi, N., & Roopaei, M. (2024). Improving Computational Thinking Competencies in STEM Higher Education. 2024 IEEE Integrated STEM Education Conference (ISEC).

    Gross, S., Kim, M., Schlosser, J., et al. (2014). Fostering computational thinking in engineering education: Challenges, examples, and best practices. IEEE Global Engineering Education Conference (EDUCON).

    Gupta, G., Salazar, E., & Arias, J. (2024). Computational Thinking with Logic Programming. CEUR Workshop Proceedings.

    Harimurti, R., Ekohariadi, Munoto, & Igp Asto, B. (2019). The concept of computational thinking toward information and communication technology learning. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering.

    Ho, W. K., Looi, C. K., Huang, W., et al. (2021). Computational thinking in mathematics: To be or not to be, that is the question. Yearbook 2020 Association Of Mathematics Educators.

    Hoić-Božić, N., Mezak, J., & Tomljenović, K. (2019). Enhancing teachers’ computational thinking skills through game based learning. CEUR Workshop Proceedings.

    Jeng, H.-L., Liu, L.-W., & Chen, C.-N. (2019). Developing a Procedural Problem-solving-based Framework of Computational Thinking Components. 2019 8th International Congress on Advanced Applied Informatics (IIAI-AAI).

    Kumar, I., & Mohd, N. (2024). Ways of using computational thinking to improve students' ability to think critically. Infrastructure Possibilities and Human-Centered Approaches With Industry 5.0.

    Mee, R. W. M., Yob, F. S. C., Pek, L. S., et al. (2025). Building digital thinkers: A bibliometric analysis of computational thinking in children’s education for a sustainable future. Contemporary Educational Technology.

    Nannum, S., Silawatchananai, C., Hutamarn, S., et al. (2025). Developing Mobile Robots Learning Activity to Promote Students’ Computational Thinking. Lecture Notes in Educational Technology.

    Qu, Z., Liu, J., Che, L., et al. (2023). Research on the Application of Gamification Programming Teaching for High School Students' Computational Thinking Development. 2023 IEEE 12th International Conference on Educational and Information Technology (ICEIT).

    Rojas-López, A., & García-Peñalvo, F. J. (2018). Learning Scenarios for the Subject Methodology of Programming from Evaluating the Computational Thinking of New Students. Revista Iberoamericana de Tecnologias del Aprendizaje.

    Vinu Varghese, V. V., & Renumol, V. G. (2021). Assessment methods and interventions to develop computational thinking - A literature review. 2021 International Conference on Innovative Trends in Information Technology (ICITIIT).

    Zhao, M., & Hu, W. (2022). A practical research on the training of middle school students' computational thinking based on problem solving in systematic information process view. 2022 3rd International Conference on Education, Knowledge and Information Management (ICEKIM).

  • Terbit pada
    Guru Pejuang Digital Perlu Tahu Fitur-fitur di kodingmu.id

    Di tengah percepatan digitalisasi pembelajaran yang digalakkan pemerintah melalui program Guru Pejuang Digital, para pendidik kini dituntut tidak hanya cakap mengajar tetapi juga mahir memanfaatkan teknologi agar pembelajaran di sekolah semakin modern dan relevan. Program yang baru saja diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini bertujuan menjadikan guru sebagai pelopor transformasi digital di setiap satuan pendidikan.

    Salah satu platform yang sejalan dengan semangat tersebut adalah Kodingmu.id — sebuah platform pembelajaran pemrograman yang kini semakin penting dikenal oleh seluruh Guru Pejuang Digital. Platform ini memberikan solusi bagi guru untuk membangun kompetensi digital siswa sejak dini dengan cara yang menyenangkan, kontekstual, dan terstruktur.

    1. Pembelajaran Algoritma Terstruktur yang Mudah Diikuti Kodingmu.id menawarkan 9 level pembelajaran bertingkat yang dirancang khusus untuk membantu siswa memahami logika pemrograman, mulai dari runtunan dasar sampai subrutin yang kompleks. Seluruh materi dipecah ke dalam 31 sublevel dengan total 255 misi yang harus diselesaikan siswa menggunakan metode visual Blockly, pendekatan yang cocok terutama bagi pemula dan siswa sekolah dasar.

    2. Integrasi Etika dan Kearifan Lokal Indonesia Berbeda dengan platform pembelajaran teknologi lainnya, Kodingmu.id menyisipkan konten etika dan kearifan lokal Indonesia di dalam soal-soalnya, seperti nilai-nilai Pancasila, menghormati guru, serta kebiasaan doa sebelum kegiatan. Hal ini selaras dengan fungsi guru sebagai pendidik karakter, bukan sekadar operator teknologi.

    3. Fasilitas LMS untuk Guru dan Siswa Fitur Learning Management System (LMS) pada Kodingmu.id memudahkan guru untuk membuat kelas, mengundang siswa, memantau perkembangan belajar, serta menyusun soal dan tugas yang sesuai kebutuhan pembelajaran di sekolah. Ini menjadi alat penting bagi Guru Pejuang Digital dalam memperkuat pembelajaran digital secara sistematis.

    4. Wadah Kreasi dan Kolaborasi Siswa Platform ini juga menghadirkan ruang bagi siswa untuk berekspresi dan berkolaborasi: Berbagi Soal, siswa membuat soal berbasis Blockly yang dapat dicoba oleh siswa lainnya. Kreasi Siswa, siswa dapat menciptakan proyek atau game berbasis Blockly mereka sendiri.

    5. Adu Koding dan Game Simulasi Dunia Nyata Fitur Adu Koding memberikan pengalaman kompetitif yang seru, di mana siswa dapat “beradu kode” dengan teman lain. Sementara fitur Game Simulasi Dunia Nyata memungkinkan siswa menerapkan kemampuan koding mereka melalui gameplay bergaya open world, di mana aktivitas seperti berkebun, menambang, hingga jual-beli dilakukan menggunakan pseudocode.

    6. Sistem Penghargaan yang Menginspirasi Untuk memotivasi peserta didik, Kodingmu.id menerapkan sistem penghargaan berupa sertifikat bagi siswa yang menyelesaikan level tertentu, serta badge untuk berbagai aktivitas yang dicapai. Ini mendorong semangat belajar serta apresiasi atas pencapaian siswa di era digital.

    Mengapa Guru Pejuang Digital Perlu Memahami Kodingmu.id? Sebagai garda terdepan dalam transformasi pembelajaran digital, Guru Pejuang Digital tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengintegrasikan alat pembelajaran digital seperti Kodingmu.id ke dalam konteks pembelajaran di kelas. Dengan memahami berbagai fitur platform ini, guru dapat memperkaya pengalaman digital siswa, sekaligus mendukung program nasional untuk mencetak generasi pembelajar yang siap menghadapi tantangan masa depan.

  • Terbit pada
    Menjelajahi Dunia KodingMu: Petualangan Algoritma yang Menyenangkan

    Di tengah gempuran teknologi yang semakin canggih, kemampuan berpikir komputasional atau computational thinking kini menjadi keterampilan hidup yang krusial, bahkan bagi anak-anak. Namun, bayangan tentang layar hitam penuh kode rumit sering kali membuat anak-anak—dan orang tua—mundur teratur sebelum mencoba. Menjawab tantangan ini, sebuah tim inovatif dari Universitas Tanjungpura (UNTAN), Pontianak, menghadirkan KodingMu (https://kodingmu.id), sebuah platform yang mengubah kurikulum pemrograman menjadi sebuah peta petualangan yang seru dan penuh warna

    Berbeda dengan metode belajar konvensional yang kaku, KodingMu mengajak anak-anak memasuki dunia "GrowKoding". Jika dilihat dari peta perjalanannya, pengalaman belajar di sini dirancang layaknya sebuah game petualangan besar. Siswa tidak langsung disodori teori berat, melainkan diajak menelusuri "Jalur Utama" yang terdiri dari 9 Level berjenjang. Perjalanan dimulai dari gerbang Level 1 untuk mempelajari konsep dasar "Runtunan" (urutan instruksi), menyeberangi jembatan-jembatan puzzle logika, hingga akhirnya mencapai kastil megah di Level 9 yang mengajarkan konsep kompleks seperti "Subrutin". Di sepanjang jalur utama ini saja, terdapat 31 Sublevel dengan total 255 Misi Blockly yang harus diselesaikan secara bertahap, memastikan anak-anak memahami logika koding selangkah demi selangkah tanpa merasa terbebani.

    Namun, daya tarik KodingMu tidak hanya berhenti di jalur utama. Platform ini menyediakan berbagai "pulau" aktivitas yang melatih aspek kecerdasan berbeda. Bagi anak-anak yang berjiwa kompetitif, tersedia arena Pemecahan Masalah ala Domjudge. Di sini, kemampuan logika mereka diuji dalam format yang lebih serius dan terstandar, mirip dengan kompetisi pemrograman tingkat mahasiswa, namun tetap disesuaikan dengan usia mereka. Fitur ini melatih ketangguhan mental dan kecepatan berpikir dalam mencari solusi terbaik untuk sebuah masalah. Di sisi lain, KodingMu menyadari bahwa koding haruslah relevan dengan kehidupan nyata. Oleh karena itu, terdapat zona Open-Ended Game yang menyajikan tantangan ekonomi dunia nyata. Di zona ini, anak-anak tidak sekadar menyusun balok kode, tetapi belajar menerapkannya untuk simulasi kasus riil, seperti logika pasar saham. Mereka diajak membuat algoritma sederhana: "Jika harga saham di atas 100, maka jual", atau menghitung laba dengan rumus pendapatan dikurangi pengeluaran, bahkan hingga memeriksa faktor inflasi. Ini adalah terobosan cerdas yang menghubungkan logika pemrograman dengan literasi finansial sejak dini.

    Bagi anak-anak yang memiliki imajinasi liar dan tidak ingin terikat misi baku, KodingMu menyediakan pulau Proyek Bebas. Di area ini, kreativitas adalah rajanya. Siswa dibebaskan untuk merancang game atau proyek animasi mereka sendiri dari nol, merakit ide-ide liar mereka menjadi karya digital yang bisa dimainkan. Semua fitur teknis ini dibungkus dengan filosofi luhur "Belajar Koding, Membangun Karakter". Melalui fitur donasi yang inklusif dan sistem komunitas yang suportif, KodingMu tidak hanya mencetak programmer andal, tetapi juga tunas bangsa yang peka sosial.3 Dengan pendekatan visual yang memikat dan materi yang begitu komprehensif—mulai dari dasar logika hingga simulasi ekonomi—KodingMu membuktikan bahwa belajar algoritma bisa menjadi petualangan yang dinanti-nanti oleh setiap anak Indonesia.

    Karya yang dikutip Tentang Kami - kodingmu, diakses Desember 14, 2025, https://kodingmu.id/about.php kodingmu - Belajar Koding, Membangun Karakter, diakses Desember 14, 2025, https://kodingmu.id/ Donasi - KodingMu Peduli, diakses Desember 14, 2025, https://kodingmu.id/pembayaran/donasi.php

  • Terbit pada
    Kodingmu Resmi Hadir: Wujudkan Misi Besar Bersama Pemkot Pontianak untuk Generasi Emas Digital

    Halo Sobat Kodingmu!

    Hari ini adalah momen bersejarah bagi kami, keluarga besar Jurusan Informatika Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (UNTAN). Dengan bangga dan penuh semangat, kami resmi meluncurkan Kodingmu, sebuah platform belajar koding yang kami rancang khusus dari hati untuk anak-anak Indonesia.

    Mengapa Kodingmu Lahir? Kami sadar bahwa dunia berubah dengan sangat cepat. Di era transformasi digital ini, koding bukan lagi sekadar 'bahasa robot' atau skill eksklusif milik segelintir programmer saja. Bagi kami, koding adalah "baca-tulis" baru—sebuah literasi dasar yang wajib dimiliki generasi muda.

    Melalui Kodingmu, kami ingin mematahkan stigma bahwa belajar pemrograman itu sulit dan membosankan. Kami telah merancang platform ini agar interaktif, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari adik-adik pelajar, mulai dari SD hingga SMA.

    Apresiasi Luar Biasa dari Pemkot Pontianak Kebahagiaan kami bertambah dengan kehadiran Bapak Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, dalam acara peluncuran dan Tech Talk bertajuk "Membangun Generasi Cerdas Digital Indonesia" di Gedung Konferensi Untan kemarin (9/12).

    Dukungan beliau menjadi suntikan semangat bagi kami. Pak Bahasan sepakat dengan visi kami bahwa koding dapat membentuk pola pikir komputasional (computational thinking), mengasah kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah (problem solving). Seperti yang beliau sampaikan, "Membangun generasi cerdas digital bukan hanya tugas sekolah, tetapi tanggung jawab bersama."

    Antusiasme Generasi Muda Kami sangat terharu melihat antusiasme yang luar biasa saat sesi demo interaktif dan booth edukasi kami diserbu oleh perwakilan dari 19 SD, 10 SMP, dan 4 SMA se-Kota Pontianak. Melihat binar mata para pelajar saat berhasil menulis baris kode pertama mereka adalah motivasi terbesar bagi kami untuk terus berinovasi.

    Langkah Awal Menuju Masa Depan Peluncuran ini bukanlah garis finis, melainkan garis start. Bersama dukungan pemerintah daerah dan institusi pendidikan, kami berkomitmen untuk mencetak lebih banyak talenta digital dari Pontianak yang siap bersaing di panggung nasional maupun global.

    Terima kasih atas dukungan semua pihak. Mari bersama-sama kita bangun Pontianak yang siap menghadapi tantangan era digital!

    Salam Inovasi, Tim Kodingmu Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura